Minggu, 09 September 2012

MENCEGAH JETLAG




Apa  Itu Jetlag?


Jetlag adalah kondisi di mana tubuh mengalami kekacauan jam biologis akibat perubahan zona waktu. Sebagaimana kita tahu, bepergian jauh melintasi beberapa zona waktu akan menyebabkan pergeseran waktu tidur, waktu makan, dan waktu beristirahat. Akibatnya tubuh kita terasa lemas, kepala terasa berat bahkan pusing/sakit, kehilangan nafsu makan, dan beberapa mengalami kesulitan tidur di malam hari dan mengantuk di siang hari saat tiba di tempat tujuan. Gejala-gejala inilah yang disebut dengan jetlag, dan dapat berlangsung hingga beberapa hari.

Nah, tentunya dalam bepergian, apalagi dalam rangka wisata atau libur, kita tidak ingin terserang jetlag. Beberapa kali saya melihat teman seperjalanan yang mengalami jetlag, waaaah, sengsara sekali, ketika yang lain asyik di obyek wisata, belanja, foto-foto atau beli kudapan setempat, si korban jetlag hanya bisa duduk sambil mengurutkan minyak kayu putih ke pelipis dan merapatkan jaket di tengah musim panas yang cerah.  Tidak tega melihatnya. Yang kita harapkan, kita bisa menikmati libur dengan sehat, tanpa harus diganggu jetlag.

Kapan Berisiko Terkena Jetlag?


Semakin besar perbedaan zona waktu (antara tempat asal dan tempat tujuan), semakin besar kemungkinan terserang  jetlag. Bepergian ke tempat dengan selisih waktu 11 jam dari waktu kita, akan lebih besar risiko terkena jetlag dibandingkan pergi ke tempat yang selisih  waktunya hanya 4 jam.


Pergi ke arah Timur meningkatkan risiko dan eksposur/tingkat keparahan jetlag daripada ke Barat, karena bila pergi ke Barat kita mendapat 'bonus' atau tambahan waktu sehingga memberi tubuh kesempatan yang lebih besar untuk beradaptasi. Selain itu, saat bepergian ke arah Barat kita menyetel waktu kita mundur, dan tentunya lebih mudah untuk menunda waktu tidur lebih larut dari biasanya, daripada harus bangun lebih pagi dari biasanya.
Contoh, perjalanan dari Jakarta (zona waktu GMT+7) ke Cairo (GMT +2) adalah bergerak ke arah Barat, sedangkan dari Jakarta ke Auckland (GMT +12) adalah bergerak ke arah Timur. Walaupun dari Jakarta kedua tempat tersebut berbeda 5 jam, tapi perjalanan ke Auckland akan lebih berisiko menimbulkan jetlag dibandingkan ke Cairo. 

Mencegah Jetlag


Untuk mencegah atau setidaknya meminimalkan risiko terkena jetlag, berikut beberapa tips yang dapat dicoba:

Segera sesuaikan waktu anda dengan zona waktu di tempat tujuan.

Setelah naik pesawat, atur jam tangan ke zona waktu di tempat tujuan, dan sesuaikan jadwal makan dan tidur dengan zona waktu yang baru. Artinya, bila jam menunjukkan di tempat tujuan adalah saatnya tidur, usahakan untuk tidur walaupun belum terlalu mengantuk.
Ada orang yang tidak ingin megubah jam tubuhnya dan tetap bertahan dengan zona waktu asal, tetapi ini akan berat untuk diikuti, karena aktivitas libur anda akan menjadi aneh dan kacau (tidur di siang hari saat seharusnya anda pergi ke obyek wisata, bangun di malam hari saat obyek wisata sudah tutup).

Bila memungkinkan  lakukan penyesuaian bertahap beberapa hari sebelum berangkat

Sesuaikan  dengan mengatur maju/ mundur waktu makan dan tidur. Contoh, bila akan pergi ke tempat dengan zona waktu GMT+2, artinya berbeda 5 jam dengan WIB (GMT+7), anda bisa mulai menyesuaikan waktu makan satu jam per hari selama 5 hari. Jadi  bila biasa makan malam pkl. 18.00, H-5 dimundurkan 1 jam ke jam 19.00, H-2 ke  pk.20.00 dan seterusnya. Lakukan ini sebisa mungkin.

Menjaga kandungan cairan tubuh selama pejalanan

Banyak-banyak minum air putih selama dalam pesawat.  Kelembaban udara yang rendah di dalam pesawat akan membuat tubuh kekurangan cairan, sehingga sangat penting anda mengganti cairan tubuh yang hilang dengan banyak minum air putih. Bawa botol kosong untuk diisi-ulang dari dispenser di dalam pesawat. 

Jauhi alkohol selama penerbangan karena hanya akan memperburuk jetlag.


Mengatur pola asupan karbohidrat dan protein dengan diet anti-jetlag dari Argonne. 

Diet ini dikembangkan oleh Dr. Charles F. Ehret dari  Argonne's Division of Biological and Medical Research pada Argonne National Laboratory, sebuah pusat riset di Departemen Energi USA. Diet ini membantu penyesuaian jam tubuh secara cepat ke zona waktu yang baru. 

Ikuti 3 langkah mudah diet ini:
  1. Tentukan waktu SARAPAN di tempat tujuan pada tanggal kedatangan di sana
  2. Hitung mundur 4 hari dari tanggal tersebut, dan lakukan FEAST-FAST-FEAST-FAST (pesta-puasa-pesta-puasa).
Hari pertama, FEAST : sarapan dan makan siang dengan menu tinggi protein, lalu makan malam dengan menu tinggi karbohidrat. Jangan minum kopi kecuali antara pk.15.00-17.00
Hari kedua, FAST : sarapan, makan siang dan malam dengan menu ringan terdiri dari salad, sup,buah dan  jus buah. Lagi, kopi hanya diminum antara pk.15.00-17.00 bila memang tidak dapat dihindari.
Hari ketiga, FEAST seperti hari pertama
Hari keempat, FAST , dengan tambahan catatan: bila ingin meminum sesuatu yang berkafein, minumlah di pagi hari bila anda pergi ke arah Barat, atau antara pk. 18.00-23.00 bila anda pergi ke arah Timur.
  1. Tutup puasa anda pada waktunya  sarapan di tempat tujuan, dengan mengonsumsi sarapan padat protein. Jadi, bila pramugari menawarkan pilihan ikan atau nasi goreng sebagai menu sarapan, tentunya anda harus memilih ikan. Nah…..selanjutnya, tinggal sesuaikan waktu makan anda dengan waktu setempat.
Sedikit penjelasan, saat FEAST dengan menu tinggi protein akan menstimulasi tubuh menjadi aktif (siap beraktivitas). Contohnya  telur, susu, daging/ikan,  kacang hijau, produk kedelai, keju. Menu tinggi karbohidrat, sebaliknya, akan menstimulasi tubuh  untuk tidur. Contoh  menu ini berupa nasi, mie, bihun, pasta, kentang, pudding.  Hari-hari FAST, akan mengosongkan cadangan karbohidrat dalam hati, dan me-reset jam tubuh. Selain sayur dan buah, saat FAST tetap diperbolehkan mengonsumsi sedikit karbohidrat maupun protein. Artikel asli tentang diet Argonne ini bisa dibaca di sini.

Nah, lakukan upaya-upaya di atas sebisa mungkin agar terhindar dari jetlag (sudah saya praktekkan, dan puji Tuhan saya tidak mengalami jetlag !).
Happy travelling !!